Selintas begitu saja mau nulis ini. Sebenarnya ini adalah
ungkapan hati yang tak sempat terkatakan, dan akhirnya dituangkan deh di blog
ini.
Di kampus memang aku
termasuk banyak masuk dalam berbagai organisasi. Mulai dari yang bersifat
keagamaan, olahraga, sampai yang berbau politik.
Saya mulai dari organisasi yang bersifat olahraga. Di
kampus, saya mengikuti UKM yang berfokuskan ke bulutangkis. Nama ukm nya gak
perlu disebutkan lah, dan untuk ke depannya juga akan disamarkan. Di UKM ini,
sebenarnya saya tidak termasuk structural resmi, karena memang saya belum tau
pasti dimasukin ke mana . Namun katanya si ke bidang humas, namun entah lah,
saya belum diikutsertakan dalam hal kehumasan apapun. Sebenarnya ikut UKM ini
si hanya sekedar menyalurkan hoby dan intinya mau olahraga supaya langsing,
namun karena hanya seminggu sekali, jadi ya ngefek gak ngefek si.
Latihannya si setiap hari sabtu, nah pas latihan ini yang
menjadi kendala, kenapa? Mari saya jabarkan. Gini, setiap latihan, yang namanya
orang jago bulutangkis tuh banyak, nah saya termasuk yang cetek banget kemampuannya.
Ini nih kendalanya, setiap uji tanding, saya selalu minder, gimana engga
minder, hampis setiap yang berpasangan dengan saya hasilnya pasti kalah. Kalo
dipresentasekan, 8 kali main, 6 kali kalah dan 2 kali menang, yaaaaa jadi
kasihan ke yang jadi patner saya lah. Jadi weh pas ada uji tanding, saya selalu
menghindar dengan berbagai alasan.
Pada semester pertama saya masuk UKM ini si saya cukup
intens dalam latihan, alhasil, kemampuan saya dalam bulutangkis bisa dikatakan
lumayan lah, namun akhir2 ini karena berbagai kendala, saya jadi jarang latihan
dan kembali ke titik nol lagi deh. Tapi ada yang mengganjal juga, setiap saya
latihan, yang datang tuh yang jago-jagonya aja, yang cetek2nya mah suka gak
pada dateng, jadi weh gak bisa maen da jomplang tea kemampuannya. Hmmmm
kayaknya cukup segini dulu ceritanya tentang organisasi keolahragaan yang saya
ikuti. Disambunglagi nanti di chapter selanjutnya,,, hmmmmmm.
Oh ia, selain ukm bulutangkis yang saya ikuti, sebelumnya
saya mau ikutan ukm olahraga yang lebihmenitikberatkan beladiri kaki, namun
sampai sekarang urung diikuti, alasannya si banyak, nah, nanti aja ya
diceritainnya, sekarang lanjuuuuuut ke organisasi yang saya ikuti di kampus,
yaitu organisai eksternal, namanay HM*.
Ya bisa dibilang HM*. Adalah organisasi yang membuat saya
menangis pada saat “penggojlokannya”. Gimana engga nangis, pas waktu proses
pengkaderan, saya merasa menjadi manusia yang “menyimpang”. Namun menyimpang di
sini bukan diartikan negative, melainkan menyimpang dari pemikiran saya
terdahulu. Dulu, senelum saya masuk HM*, yang namanya demo adalah paling anti,
dan sangat menentang yang namanya pendemo, namun pas penggojlokan jadi kader,
saya diharuskan untuk melukan demo. Bergejolak lah pikiran saya. Pengen
nagiiiiiis banget , jadinya pas di kamar mandi pura2 nyuci muka, padahal mah
nangis. Dan sepanjang acara, saya terus –terusan update status di f b, ya
banyak juga si dari temen2 SMA yang komen dan mempertanyakan status fb saya, ya
dijawab seadanya aja.
Di HM* ini, saya banyaaaaak banget mendapatkan hal yang
sebelumnya saya belum kepikiran dan kayaknya gak akan bisa dilakukan, eh
ternyata bisa juga, salahsatunya menjadi seorang ketua UKM.
UKM apa yang dimaksud dan bagaimana kisahnya, nanti, setelah
ulasannya selesai, sekarang kita berlanjut ke bagian kisah lainnya di HM*.
Oh ia, saat ini saya menjabat sebagai sekrertaris umum.
Sebenarnya si gak begitu faham ya menegnai tugas pokok dan fungsinya, jadi ya
sampai sekarang dijalanin aja sebisanya. Pun ketiaka saya menjabat sebagai
kabid PAO, saya gak tau apa itu PAO dan bagaimana yang harus dilaksanakan,
alhasil ketika saya mencanangkan program kerja, gak ada satupun proker saya
yang sebelumnya ditulisin terlaksana. Yang ada adalah proker dadakan dan
pembaharuan. Walaupu n begitu, saya masih bisa dikatakan sukses memegang
jabatan kabid PAO. Salahsatu yang saya klaim berhasil, ketika mengadakan
kunjungan ke Kick Andy, bagaimana kisahnya, nanti di chapter selanjutnya.
Di HM*, ini saya bisa dikatakan aktif namun gak tau
ngejalanin apa. Sebenarnya HM* tu bukan saya banget, namun mencoba memasukan
diri saya ke lingkungan HM*. Ya mudah2an weh bisa merasakan esensi Yakin usaha
Sampai. Untuk HM* kayaknya cukup dulu,
nanti dilanjut lagi. Kita lanjut ke organisasi yang menitiberatkan ke bidang
jurnalistik, ya, inilah Vis****.
Di Vis****, sekarang saya menjabat sebagai pimpinan umum,
kalau di UKM si biasanya disebut ketua, namun di Vis**** disebutnya pimpinan
umum. Seperti yang saya tadi bilang, di Vis**** kenapa saya bisa berani
mengambil amanah untuk menjadi pimpinan umum, ya salahsatunya karena HM*. Pada
saat itu ketumnya sedikit memaksa untuk setiap kadernya bisa berpengaruh di
berbagai elemen kampus. Awalnya saya diarahkan untuk menjadi ketua HIMA***,
namun saya menolak dengan beberapa pertimbangan, yang mudah2an bisa dijabarkan
nanti di chapter selanjutnya, mudah2an yaaaa.
Oke, kembali ke Vis****. Sebenarnya di Vis**** saya sedikit
kecewa, kenapa? Karena saya merasa sebagian besar orang-orang yang masuk Vis****
itu banyak juga mengikuti organisasi lainnya di kampus. Gapapa si kalau ikut
organisasi di kampus juga dan ikut Vis**** juga, tapi masahnya, Vis**** bagi
mereka selalu diprioritaskan ke 2, 3 atau berapalah, jadi weh pas kumpul itu Cuma
dikit. Pernah ya, saya denger tangisan dari mantan pimum Vis**** dulu, dia
pernah bilang, “kenapa si gak pernah ada yang izin ke organisasinya untuk izin
gak hadir rapat dulu karena ada rapat Vis****, pasti yang ada itu, aku izin
dulu ya buat rapat di organisasi ini dan meninggalkan rapat Vis****”.
Memang benar ya, sakiiit banget ketika kita diduain. Ya ini
mah di 3,4 5in, banyak lah. Hmmmmm sampe menghela nafas gini ngetiknya. Gak tau
kenapa mereka bisa begitu, mungkin karena feel nya gak dapet di Vis**** atau
entahlah. Memang si masih ada juga yang peduli sam Vis****, namun jumlahnya sedikit
lah, kurang dari 10 dari total 35 anggota.
Dalam kepengurusan kali ini, bisa dibilang apa ya,,,,
bingung ah, nilai aja ya sendiri, gini keadaannya.
Rapat rapat minggu pertama setelah open house si banyak yang dateng, sampe kaget juga, ko bisa ya
sebanyak ini, yaaa ada 15-17 orang lah, namun kesini kesininya jangankan 5
orang, 3 orang pun jarang, alhasil jarang mendapatkan keputusan yang bagus.
Gapapa si sedikit juga yang datang, asal bergerak, ini mah ya kaya stak begini
aja. Untuk struktur kepengurusan pun masih amburadul, yang dimasukan diposisi
tertentu, kayaknya gak tau da dia masuk itu. Da giamana mau tau, wong datang
aja gak pernah. Alasan gak datengnya si karena kuliah, laaaaaaaaa emang aku dan
yang lain gak kuliah gitu, sama juga kali. Tapi gapapa lah gak datang juga,
asal ada kontribusinya, tapi sampai sekarang gak kerasa tuh kontribusinya. Aku
juga gak tau ini salahnya dari siapa, apa dari mereka yang mementinbgkan diri
sendiri, apa dari kepemimpinan kau yang gak beres. Mau tau juga si dimana
salahnya, tapi ngobrol aja jarang, bahkan gak pernah, ya mau gimana atuh da
lieur.
Gak tau ini terpengaruh omongan mantan pimum terdahulu, apa
mungkin memang keadaanya kaya gini. Dia pernah berkata dan menitipkan
wejangannya, “pada saat menjadi pimum, memang pasti ngerasa ditinggalin dan
bekerja sendiri, yang kuat aja weh”.
Karena omongan itu, kayaknya akungerasain banget dan kondisinya
ya kaya gini, ngerasa ditinggalin dan bekerja sendiri. Patokan aku bekerja
sendiri, seperti ini.
1.
Yang ngisi SC, aku lagi, aku lagi, padahal untuk
meramaikan SC, aku sengaja ngebagiin banyak kunci ke anggota, namun yang
dikasih kunci gak tau kemana jarang ke SC, alhasil aku lagi-aku lagi.
2.
Untuk ngisi kekosongan kegiatan Vis****, aku
alihin ke blog, alhasil aku bikin lah blog Vis**** yang baru, namun yang
ngisinya kau lagi aku lagi. Hmmmmm cape juga.
3.
Acara terbaru di Vis**** yaitu Tekstil
Bercerita, namun gak tau kenapa gak ada yang gerak, jadi weh terbengkalai
begitu saja. Untuk mengantisipasinya, diundur lah 2 bulan, semoga tetap
berjalan.
4.
Perekrutan anggota gak jalan, jadinya yang
tadinya daftar banyak, satu persatu mulai berguguran, yang aktif kurang dari 7.
Padahal tadinya mau pelantikan desember, jadi diundur maret.
Pernah lihat juga status fb dari pimum terdahulu semenjak
masih jadi pimum, di status itu tertulis, “kapal ini lambat laun pasti akan
karam”. Melihat status ini, sebenarnya rada ragu juga si ketika hendak
mengambil amanah ini, namun melihat kondisi sekarang, yaaaa mudah-mudahan tidak
karamnya pas kepemimpinan aku, dan masih terus berlangsung di tahun tahun
selanjutnya setelah aku sukses. Amiiin.
Semoga di semester depan, kondisi ini bisa lebih baik, dan
kapal ini akan terus berlayar untuk menantang dan mengarungi samudra walaupun
begitu banyaknya ombak yang menerjang. Bahkan badai sekalipun tak akan menghancurkan
kapal yang sudah berlayar belasan tahun ini.
Sekarang lanjuuuuuut ke organisasi terakhir yang aku ikuti
di kampus. Ini adalah himpunan dari jurusan aku, nanamaya HIMA***.
Di HIMA***, rasanya dari sekian banyak organisasi yang saya
ikuti, hanya HIMA*** yang paling di hati. Entah kenapa ya, di HIMA*** ini
rasanya adeeeeem aja, mungkin karena banyak teman seperjuangan, atau mungkin
karena history terdahulu. Walau demikian, banyak kisah yang asem, mais, pait dan banyaaaak rasa lah di HIMA***, namun
kali ini mau ngungkapi kisah asem dan paitnya aja, kisah manis, giung, gurih,
dan sebagainya, diceritakan nanti di chapter selanjutnya.
Pertama kali masuk HIMA***, kami, saya angkatan 2010 sudah
diikutsertakan dalam berbagai acara, mulai dari seminar, sampai kemping bareng.
Awalnya saya sangat enjoy untuk melaksanakannnya, namun taun ke taun ko masih
saya-kita2 aja yang kerja. Hmmmm gak tau kenapa tah.
Gini kronologinya, tahun pertama saya masuk, saya sudah diamanatkan
jadi korbid, yang seharusnya diisi oleh angkatan di atas saya, namun karena
mereka pada ngilang, jadi weh berbagai tugas “berat” harus dilimpahkan ke 2010.
Untungnya walaupun minim pengetahuan, dan baru pertamakali, berbagai tugas yang
diembankan pada saya dan 2010 bisa terlaksana dengan baik, mungkin ini sebabnya
angkatan kita di HIMA*** disebut golden generation.
Taun selanjutnya, ketika kita memang disipakan untuk menjadi
eksekutor, kita masih terima saja, da memang inilah bagian kita. Pertamakali
masuk HIMA*** harusnya kita jangan dulu jadi eksekutor, tapi pemantau dulu,
namun kondisinya seperti itu, ya apa mau dikata, sudah terjadi.
Baiklah, ketika kita , saya khususnya harus menjadi
eksekutor, saya terima dengan lapang dada, namun ada sedikit mengganjal, saya
pada saat jadi eksekutor, tidak ada bimbingan yang memadai dari pihak atasnya,
alhasil, eksekutor ia, konseptor ia. Konseptor si dikit, karena pihak atas
sedikit sudah mengkonsepnya, saya hanya menjalaninya aja, ya yg saya rasakan
jadi semacam “pelaksana bos” lah. Hmmmm ya begitulah yang saya rasakan.
Taun berganti dan sekarang saya menjadi konseptor, namun apa
yang terjadi sodara-sodara, orang yang seharusnya jadi eksekutor tidak
melaksanakan tugasnya sodara-sodara. Jadilah saya menjadi konseptor, dan tetap
menjadi eksekutor. Cape deh.
Kenapa saya bisa mengatakan jadi konseptor dan sekaligus
jadi eksekutor, gini ceritanya.
Pada saat ada acara, yang dateng orang itu lagi, orang itu
lagi, saya lagi, saya lagi, sampai ada kaka tingkat yang bilang, kalau gak ada
T** C**, acara HIMA*** gak akan jalan, ya memang inilah adanya, orang-orang ini
aja dan sebagian lainnya yang mensuport penuh HIMA***.
Dan sampai ke titik puncaknya, baru baru ini acara yang kita
konsepkan bareng, tapi pas acaranya yang datang hanya 12 orang, padahal banyak
banget anggotanya, yang disayangkan yang barunya kurang begitu berpartisipasi,
ini bisa dilihat pas rapat, hampir setiap rapat selalu sedikit, dan puncaknya
tadi, gak ada satu pun yang adateng. Kecewa. Ya.
Entah mau dikatakan apa, gak tau juga harus gimana supaya
bisa hadir semua. Bagi saya, tolak ukur orang tersebut kontribusi ke
organisasi, adalah pada saat rapat dan hari H datang. Ketika dia datang rapat ,
dia sudah berkontribusi, ketika dia datang pas hari H, dia sangat mencintai dan
memperdulikan HIMA***, namu apabila datang rapat engga, datang pas hari H
engga, nanyain kabar HIMA*** pun engga, terus ngapai atuh dulu daftar.
Bagi saya, ketika
kita sudah memutuskan untuk mendaftar di organisasi tertentu, kita harus bisa
mendukung penuh organisasinya. Sebuah konsekuensi jika kita memasuki banyak
organisasi, kita harus optimal di semuanya, Jangan memilih satu organisasi dan
meninggalkan total organisasi lainnya. saya mengenal dan menemukan orang seperti itu di semua
organisasi yang saya ikuti, dan saya kecewa.
Hmmmm bukan berarti dengan tulisan ini mewakili semua nggota
HIMA*** seperti itu, masih banyak ko yang peduli pada HIMA***, dan masih banyak
yang bisa bekerja ekstra untuk HIMA***, namun apabila ada yang belum maksimal
dan memaksimalkan HIMA***, mudah2an dengan tulisan ini, bisa tersentuh lah dan
menengok bagaimana keadaan HIMA*** dan membangun HIMA*** menjadi lebih baik
lagi.
Hmmmm kayaknya udah dulu deh sedikit gambaran berbagai
organisasi yang saya ikuti dan berbagai kisah yang saya alami di dalamnya.
Apabila ada yang tersinggung dengan tulisan ini, ya saya minta maaf. Da bukan
bermaksud untuk menjelek jelekan orang atau kelompok tertentu. Ini hanya
ungkapan hati yang diterbitkan lewat tulisan yang bersifat umum, jadi apabila
ada yang tersinggung dan sampai sampai menyeret saya ke polisi atau mengancam
dan mengintimidasi saya, wah itu merupakan tindakan yang kekanak kanakan dan
sangat kuno lah. Dan semoga aja gak ada, dan jangan ada atuhhh, hehehe da ribet
meurun lamun aya mah.
Mudah-mudahan dengan dietrbitkannya tulisan ini, yang merasa
tersentil dengan tulisan ini ya monggo merubah diri, dan yang sudah merubah
diri, ayo bicara with me.
Kalo dibaca tuntas, tulisan di atas kebanyakan ngeluh,
nyeritain yang gak enak, ngeselin dan mengecewakan. Emang sengaja si nulis yang
ini dulu, karena mau ngegambarin, walaupun sesulit dengan kondisi seperti ini,
walaupun situasinya seperti itu, masih saja bertahan di 4 organisasi tersebut,
pasti dooooong ada FAKTOR X nya. Nah kenapa bisa bertahan dan apa si bagian-bagian
termanis dan layak buat diapresiasi dari 4 organisasi yang aku ikutin ini, akan
diulas nanti, di chapter selanjutnya. Berhubung ini tulisannya rada nyerempet,
jadi tulisan di atas pake inisial dan disamarkan, nanti mah pas bagian yang
bagus-bagusnya,a kan ditulis utuh.
Sudah dulu ya ceritanya. Kalau di Ms.Word si ini sampai 5
halaman dengan huruf Calbiri(Body) font 11.
Saya Yogie Al-Muchtar, melaporkan langsung dari kontrakan,
tepatnya di kamar saya yang paling rapih.
Okayyyyy. 11-1-2013.