Membutuhkan perjuangan yang sangat besar hanya untuk melintasi si hitam dengan lebar 5 meter. Menbutuhkan keberanian yang tinggi dan doa yang kuat haruslah wajib ada apabila kita ingin menyebrang di sepanjang jalan Jakarta. Betapa tidak, jalan yang setiap hari dilewati ribuan kendaraan dan setiap hari pula padat. Memang gapapa si padat, namun laju kendaraan yang dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam membuat mistis dalam menyebrang. Kecepatan seperti itu tidak ubahnya terror yang mengancam setiap kita ingin melangkahkan kaki melintasi sudut lain jalan Jakarta.
Tidak terkecuali saya. Setiap kuliah, saya harus menyebrang untuk menuju kampus tercinta. Bukan hal yang mudah bagi saya untuk menyebrang. Dengan laju kendaraan yang cepat, seolah berlomba dengan waktu, menambah kesulitan saya menyebrang.
Berbagai cara saya tempuh untuk menyiasati supaya saya tidak meyebrang sendiri. Mulai dari mengekor teman, ngebela-belain datang jam 7.30 pagi padahal perkuliahan dimulai pukul 10.30 , sampai yang paling konyol, saya harus menggunakan angkot hanya untuk melintasi 5 lima meter lebar jalan Jakarta. Namun bagi saya menggunakan angkot adalah pilihan yang dilematis. Di satu sisi saya tidak harus was-was kehilangan nyawa sia-sia akibat tertabrak, namun di sisi lain, saya harus merelakan uang saya melayang sebesar Rp.2000,-.
Konyol, mungkin kata itu tepat saya ucapkan, bagaimana tidak, saya harus menumpang angkot jurusan Ciwastra-Cicaheum, yang kemudian turun di depan halte pertama jl.supratman, kemudian nyebrang dikit ( kali ini saya berani nyebrang karena gak semistis jalan Jakarta ), langsung menumpang lagi ciwastra-cicaheum atau margahayu-ledeng boalk balik habis Rp. 2000,-.
Rasanya pengorbanan yang cukup dramatis saya lakukan demi menuntut ilmu. Kalo begini caranya, kapan ya jembatan penyebrangan dibuatkan di depan kampus tercintaku?
Sudah 20 tahun kampus ini berdiri kokoh, namun tiang sekecil lidi pun belum kelihatan untuk bahan berdirinya jembatan penyebrangan. Bukan kali ini saja kami meraung-raung meminta berdirinya jembatan penyebrangan tapi belum ada sikap nyata. Entah sampai kapan kita harus meraung, atau nunggu korban berjatuhan lebih banyak lagi?
Ironisnya negeri ni, birokrasi yang terburuk dipegang oleh negeri terindah. Butuh dana? Banyak ko. Butuh sumber daya manusia? Terhampar jutaan orang pintar. Butuh apalagi?
Kacamata Yogie bisa mengambil kata pamungkas untuk situasi dan masalah kali ini, yaitu, biarlah Rp. 2000-ku melayang, asal nyawaku sayang tidak terbang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar